Advertisement

Responsive Advertisement

Portside Records Mempersembahkan Piringan Hitam Silampukau


Album Dosa, Kota, & Kenangan dirilis ulang dalam format vinyl, komplit dengan liner notes dari tiga penulis lintas disiplin.  

Silampukau akhirnya resmi merilis album Dosa, Kota, & Kenangan dalam format piringan hitam ukuran 12 inci pada tanggal 19 November 2022. Proyek ini digagas oleh label rekaman anyar asal Surabaya, Portside Records, yang konon akan mendedikasikan kerjanya pada perilisan karya rekaman album Indonesia dalam format vinyl.


Soal keputusannya menggandeng Silampukau, Portside Records menyatakan: “…adalah suatu kehormatan bagi kami untuk menerbitkan album terbaik dari Surabaya, yang menyoal tentang pusparagam kisah-kisah yang tercecer di balik riuh-rendah suasana kota.”

“Deg-degan, kalau saya harus jujur,” kesan Kharis Junandharu mengenai proyek perilisan ulang debut album Silampukau tersebut. “Ini adalah eksperimen pertama yang amat mengasyikkan bagi kedua belah pihak, Portside Records dan Silampukau. Setelah tawaran produksi vinyl datang dari Portside, kami langsung terlibat diskusi yang seru tentang segala tetek-bengek teknis mulai dari format audio sampai penjualan. Dan sangat mengejutkan ketika kami mendapat laporan bahwa sekian ratus keping vinyl ini ludes dalam waktu kurang dari 40 menit.”

Sejak beberapa pekan lalu, piringan hitam Dosa, Kota, & Kenangan telah dibuka sesi pre order melalui Portside Records. Dalam waktu singkat, penggemar Silampukau berbondong memesan vinyl yang dicetak terbatas sebanyak 400 keping tersebut. Dalam waktu sangat singkat, plat Dosa, Kota, & Kenangan telah dinyatakan sold out. Sebagian stoknya tersedia pada distributor resmi yang telah ditunjuk Portside Records. 

Dosa, Kota, & Kenangan pertama kali dirilis secara independen dalam format CD oleh Moso’ Iki Records, pada bulan April 2015. Proses pengerjaan album ini hanya setahun dengan metode home recording yang mereka jalani dengan santai dan menyenangkan. 

Selama sebulan penuh, Silampukau merekam sepuluh materi lagunya di Surabaya dan Malang. Semua lagu direkam oleh Samuel Respati di Sforzando Music School, Surabaya. Bagian violin dan drum direkam oleh Bambang Iswanto dan Onny Marettino di Malang. Proses mixing dan mastering-nya dikerjakan oleh Richard Frank Taihutu di Jakarta. 

Silampukau dalam rekaman Dosa, Kota, & Kenangan sejatinya adalah Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening. Selama penggarapan, mereka berdua melibatkan sejumlah musisi untuk mendapatkan spektrum yang lebih kaya. Di antaranya adalah Rhesa Filbert (bass), Erwin B. Saputra (drum/gitar), Samuel Respati (piano/perkusi), Doni Setiohandono (akordion), Aji Prasetyo (violin), Kidung Kelana (musical saw), A. Fauzi (cello), Bayu Dipodjoewono (gitar), Arta D. Laksono (trumpet), Bintang E. Simatupang (trombon), hingga Yudosaxo (saksofon). 
  
“Album penuh pertama bagi setiap musisi adalah sebuah pertaruhan. Bagai sekeping koin, ia bisa bermakna ganda: menjadi batu tapak untuk melangkah ke panggung berikutnya atau justru menjadi batu nisan yang hanya berfungsi sebagai penambat ingatan,” begitu pernyataan spekulatif Silampukau saat mereka merilis Dosa, Kota, & Kenangan, sekitar tujuh tahun silam.

Untungnya, semesta menakdirkan opsi yang pertama bagi Silampukau. Sejak pertama kali dirilis, Dosa, Kota, & Kenangan langsung mendapat respon yang hangat dari publik kala itu. Diulas secara positif oleh banyak media dan kritikus musik. Bahkan album ini juga yang akhirnya melesatkan nama Silampukau di kancah musik nasional, yang berimbas kemudian diundang manggung ke berbagai konser dan festival musik.   

Hampir seluruh lagu di album ini merupakan refleksi dari kehidupan oorang-orang biasa di Surabaya. Mulai dari kisah penjual minuman keras di “Sang Juragan”, bocah kampung pada “Bola Raya”, nasib musisi indie di “Doa 1”, pekerja urban pada “Lagu Rantau”, hingga penduduk komuter dan para pelintas jalan raya di “Malam Jatuh di Surabaya”. Seperti sebuah kolase, potongan kisah-kisah tadi sanggup membentuk gambaran besar tentang kehidupan sehari-hari di kota Surabaya.   

Relasi Silampukau yang kuat pada kota Surabaya juga tampak menonjol pada lagu “Bianglala” yang berkisah soal Taman Hiburan Rakyat, serta “Si Pelanggan” yang bercerita soal kompleks lokalisasi kesohor yang sudah ditutup di kampung Dolly. Dua lagu tadi sekaligus menjadi penanda memori kolektif atas sebuah lokasi dan peristiwa yang lekat di dalam ingatan warga Surabaya. Tiga lagu lainnya memberikan ruang refleksi yang lebih personal, yaitu “Aku Duduk Menanti”, “Balada Harian”, serta “Puan Kelana”.

Dosa, Kota, & Kenangan sering disebut sebagai salah satu album esensial yang pernah dilahirkan dalam satu dekade terakhir. Penulis Arman Dhani bahkan menyatakan kalau album ini sangat penting karena mampu menuturkan kegelisahan kelas pekerja di Surabaya dengan sangat rapi. Nyaris serupa dengan Bangkutaman yang juga mengisahkan Jakarta di album Ode Buat Kota, lima tahun sebelumnya. 

“Sebuah album sinematik tentang pojok-pojok tak terceritakan di meriahnya kehidupan urban di Surabaya,” tulis Titah AW dalam ulasannya tentang album ini di Warning Magz. “Menganut laku proud local youth, Eki Tresnowening dan Kharis Junandharu dengan jujur menceritakan Surabaya yang sebenar-benarnya. Mengajak kita mencintai kota dengan mengenal sisi-sisi gelapnya.”

“Dosa, Kota, & Kenangan disampaikan dengan kekuatan plus suplemen dalam menceritakan tiga variabel yang hendak dibahasnya,” tutur Wiman Rizkidarajat di situs Heartcorner. “Dalam pengalaman mendengarkan sebuah album, saya belum pernah mendapati album yang seterkonsep ini. Album yang mampu menjelaskan premis besarnya dalam judul yang kemudian dijelaskan secara mendetil melalui urutan nomor per nomornya yang sangat konsisten.” 

“Silampukau memamerkan kepintaran mereka bercerita tentang Surabaya, kota tempat mereka hidup sehari-hari,” tulis Felix Dass pada blognya. “Cara yang mereka pilih untuk mengisahkan keseharian begitu baik. Musik folk, lirik berbahasa Indonesia yang kadang diisi kata-kata yang tidak biasa dilafalkan serta beragam fakta keras tentang kota Surabaya.”

Dosa, Kota, & Kenangan memang mendapatkan banyak ulasan positif di berbagai media massa, kala itu. Bahkan masuk dalam daftar Album Indonesia Terbaik 2015 versi Rolling Stone Indonesia dan Tempo.

Lantas, bagaimana Silampukau sendiri memandang Dosa, Kota, Kenangan pada hari ini sebagai album yang sudah dirilis lebih dari lima tahun silam dan masih sering menemukan pendengar barunya?

“Setahu saya, di negeri ini lagu-lagu lama senantiasa menemukan pendengar baru. Lagu-lagu Koes Plus dan Iwan Fals masih terus disenandungkan banyak orang muda di zaman ini. Lagu-lagu rilisan Musica Records dan dangdut juga demikian. Apakah itu proses yang organik atau mekanisme yang disokong oleh kapital dari industri musik Indonesia, adalah hal yang lain lagi,” papar Kharis Junandharu. “Dalam bingkai berpikir seperti itu, kami melihat album Dosa, Kota, & Kenangan yang masih menemukan pendengar baru adalah fenomena jamak di negeri ini. Meski demikian, karena kami bisa dibilang berdiri di sisi luar industri musik Indonesia, saya selalu takjub ketika mendapati karya lama kami masih saja menemukan pendengar-pendengar baru yang apresiatif.”

Portside Records merilis piringan hitam Dosa, Kota, & Kenangan lengkap dengan liner notes yang ditulis oleh penulis lintas disiplin. Merentang dari Nuran Wibisono (jurnalis musik), Afrizal Malna (sastrawan), hingga Marco Kusumawijaya (pengamat isu perkotaan). Dalam tulisannya, mereka bertiga ikut memberikan konteks dan pemaknaan yang kuat terhadap album tersebut.  

Layaknya James Joyce yang mencintai Dublin sedemikian besarnya dalam bukunya berjudul Dubliners, Silampukau pun setali tiga uang pada Surabaya. Tak banyak band lain dalam satu dekade terakhir yang menumpahkan emosi begitu mendalam terhadap satu kota. Silampukau melakukannya secara mendalam. Dosa, Kota, & Kenangan adalah rangkuman observasi Kharis dan Eki atas realitas urban – merekam segala dosa, hiruk pikuk, serta pusparagam bopeng yang luput ditulis ketika membicarakan Surabaya. Semuanya termampatkan dalam Dosa, Kota, & Kenangan. 

Album ini bukan sekadar folk belaka. Ini adalah musikalisasi puisi yang gemilang tentang sebuah kota bernama Surabaya. 

Posting Komentar

0 Komentar