Advertisement

Responsive Advertisement

Sacrifice For Life Tuang Kegelisahan Menghadapi Dunia Dengan Lagu 'Anxiety'


Berawal di bangku sekolah menengah atas dan berlanjut hingga dewasa. Tepat pada tanggal 21 November 2009 di masa SMA, kami sepakat untuk membentuk dan memainkan musik sebagai SACRIFICE FOR LIFE (SFL) setelah menonton sebuah konser indie skala nasional di Surabaya. SFL mulai aktif di kancah musik bawah tanah pada tahun 2010 dalam acara komunitas maupun pensi di Surabaya dan beberapa kota lain dan melahirkan beberapa single seperti Not At The Desired Destiny, Aphorodite, Front Gate, Everything For This Life, dan The freedom: Carriers. Masalah muncul ketika transisi dari masa sekolah ke dunia kerja dan kuliah, sehingga SFL memutuskan untuk hiatus pada tahun 2015.

Api kembali berkobar pada tahun 2022 ketika SFL menerima undangan dari komunitas lokal di kota pahlawan dengan acara bertajuk Nostalgila yang diisi band-band yang aktif di tahun 2010-an. Tanpa diduga, masih banyak teman-teman metalheads yang masih mengingat lagu-lagu SFL dan sing along bersama kami.

Akhirnya kami sepakat untuk kembali sebagai SFL dengan beberapa wajah baru. Rona pada vokal, Permana pada Gitar, Deo pada gitar, Kukuh pada bass, dan Thomi pada drum.

Jika kamu pernah merasa dalam kepalamu sangat bising padahal di sekitarmu sedang sunyi, itulah yang kami rasakan. Entah hal tersebut dikarenakan beban di sekolah, pekerjaan, maupun problematika percintaan atau tuntutan keluarga. Itulah ide awal tertulisnya lagu berjudul ANXIETY.

Secara khusus lagu ini berisi tentang kegelisahan kami dalam menghadapi dunia. Kami merasa seperti berada di pinggir jurang dan hanya tinggal melompat ke dalamnya untuk menanggalkan beban-beban itu. Tetapi SFL mengulurkan tangannya dan berbisik kepada kami “Piye? penak zamanku toh!” bercanda guys LOL. Musik menjaga kewarasan kami dan menjadi tempat untuk bersandar kami dari hiruk pikuk dunia. Secara universal lagu ini mengangkat isu kesehatan mental terutama pada kalangan gen-z. Sebagian orang menganggap kesendirian dan kecemasan adalah hal yang lumrah dalam fase pendewasaan emosional tetapi sebenarnya hal itu merupakan hal yang berbahaya jika tidak ditangani dengan serius. Di sekitar kalian pasti kalian pernah menemui seseorang yang sedang bertahan dari tajamnya pedang dan runcingnya tombak kehidupan entah terjadi pada lingkup bullying dalam lingkungan sekolah atau pertemanan, sikut menyikut dalam dunia pekerjaan, perbudakan dalam dunia romansa, ataupun tuntutan dan tekanan dari keluarga.

ANXIETY bukanlah sekadar rasa gugup biasa. Ini adalah beban mental nyata yang dapat secara perlahan mengikis kehidupan seseorang. Banyak orang berjuang dalam diam di balik senyuman mereka, terjebak dalam pikiran dan ketakutan yang tak berujung yang sulit dijelaskan. Bahayanya terletak pada mengabaikannya, karena kecemasan dapat perlahan-lahan menguras motivasi seseorang, merusak hubungan, memengaruhi kesehatan fisik, dan bahkan berujung bunuh diri. Kecemasan itu nyata, bukan tanda kelemahan atau terlalu banyak berpikir. Itulah mengapa penting untuk lebih sadar, berempati, dan jangan pernah meremehkan masalah kesehatan mental karena mengakui keberadaannya adalah langkah pertama menuju penyembuhan.


Posting Komentar

0 Komentar