Grup musik yang mengusung genre pop rock alternatif asal Borneo Kalimantan Tengah, 26 Januari 2026, Dengan bangga merilis album perdana mereka bertajuk “misophonia”. Album ini resmi tersedia untuk dinikmati oleh para penikmat musik di Indonesia mulai hari ini.
“Misophonia” ( yang berarti suara pengganggu) adalah sebuah karya yang menggabungkan elemen rock, pop, retro dan post rock serta lirik yang sarat akan afirmasi dan positive vibes. Album ini berisi Sembilan lagu yang saling terhubung dalam satu perjalanan emosional setiap personil. Tentang mendewasakan diri, mencintai dengan utuh, bekerja secukupnya, berani memulai, menyaring kebisingan, mengacuhkan dunia yang melemahkan, dan merawat rintih yang tak terucap. Sebuah album untuk mereka yang memilih tenang, tanpa berhenti berjalan.
Album Misophonia digarap secara mandiri, melalui perjalanan kreatif yang panjang dan penuh perenungan. Proses ini berjalan dengan natural dan apa adanya, tumbuh perlahan seiring pengalaman, kegelisahan, serta fase hidup yang dilalui para personel RIZC.
Cikal bakal materi album bermula dari Tedy, gitaris RIZC, yang dipercaya untuk meramu dasar musik dan lirik. Dari kerangka awal tersebut, setiap lagu kemudian dikembangkan dan disempurnakan secara kolektif oleh seluruh personel RIZC, dengan menyerap potongan perjalanan personal masing-masing. Pendekatan ini menjadikan Misophonia sebagai album yang jujur, personal, dan merepresentasikan suara bersama band.
Proses rekaman dilakukan di Studio Sang Rintih, dengan suasana yang intim dan reflektif. Setiap lagu diberi ruang untuk menemukan bentuk terbaiknya, baik dari sisi aransemen maupun kedalaman emosional, tanpa kehilangan benang merah konsep album.
Tahap mixing dan mastering dikerjakan oleh Ridu, drummer RIZC. di Nolep Records. Keterlibatan langsung dari dalam band ini menjadi bagian penting dalam menjaga karakter bunyi serta memastikan emosi yang terbangun sejak awal tetap utuh hingga tahap akhir produksi.
Album ini diharapkan bisa menjadi teman perjalanan saat lelah, ragu, maupun ketika harus memilih untuk terus melangkah. Bukan untuk menggurui, melainkan untuk mengingatkan bahwa setiap orang berhak menentukan suara mana yang layak dipercaya, dan jalan mana yang ingin ditempuh.
Semoga lagu-lagu dalam Misophonia mampu memberi kekuatan, ketenangan, serta keberanian untuk tetap jujur pada diri sendiri, apa adanya, di tengah dunia yang sering kali terlalu ramai.

0 Komentar