Dalam ruang-ruang keseharian, ada kecenderungan yang belakangan terasa semakin nyata dan dekat, kecenderungan dimana ketika seseorang dengan mudah melabeli orang lain sebagai Narcissistic Personality Disorder (NPD). Istilah psikologis itu perlahan bergeser menjadi sebuah label yang diberikan secara arbitrer kepada siapapun yang berupaya mengejar kehendak diri. Berangkat dari kegelisahan tersebut, Andrya Tantra menghadirkan karya solo perdananya berupa album yang bertajuk “Nothing Personal Disorder” sebagai respon atas pergeseran suatu perspektif menjadi sebuah penghakiman, sekaligus upaya untuk melihat kembali kompleksitas manusia secara lebih jernih.
Dalam penggarapannya, Andrya Tantra memegang peran sebagai penulis sekaligus produser utama yang membuatnya dapat membangun arah musikal yang berangkat dari spektrum alternatif dengan pendekatan yang cenderung eksperimental. Sebelum merilis proyek solo perdananya, Andrya Tantra dikenal sebagai bagian dari unit musik Ample, serta aktif sebagai pemain bass untuk band Dongker. Album “Nothing Personal Disorder” yang dijadwalkan rilis pada 24 April melalui Cruising Records, menjadi monumen untuk Andrya Tantra dalam menjelajahi ruang artistiknya secara lebih mandiri.
“Nothing Personal Disorder” menempatkan pendekatan alternatif sebagai fundamental, sementara nuansa psikedelik hadir sebagai lapisan yang membentuk dan melonggarkan struktur tersebut. Pendekatan ini membuat format yang dibangun tidak terasa kaku, melainkan lebih terbuka terhadap eksplorasi. Di sisi lain, terdapat sentuhan blues, country, hingga hip-hop yang muncul secara subtil, memberi kedalaman emosional tanpa menjadi elemen dominan. Salah satu keragaman yang ada pada album ini dapat terdengar jelas pada trek "Aku Malu" yang kilauan gitarnya diisi oleh salah satu musisi tanah air, Jason Ranti. Warna tersebut menghasilkan karakter ambiens yang sederhana dan intim, menyorot nuansa minimalis dan menjadi fondasi bagi spektrum alternatif yang elok.
“Penggabungan dua unsur tersebut makin menguatkan kalau gue memang pengen melawan arus yang semestinya ga harus gue lakuin demi bertahan hidup di industri musik,” ujar Andrya.Di luar pendekatan sonik, “Nothing Personal Disorder” dibangun melalui yang terasa personal, mentah, dan dekat dengan realitas sosial yang dipenuhi keresahan serta pengalaman yang pernah dialami Andrya Tantra secara langsung. Tiga trek utama pada album ini, “N.P.D”, “Jauhi Fantasiku”, dan “Bertemu Lagi” mewakili langkah awal atas perjalanan di atas kekacauan dan ilusi, menuju eksplorasi dalam ruang yang bebas, hingga akhirnya berakhir dan bersandar pada sela penerimaan yang tenang.
Adapun kisah personal dari trek lain, seperti “Lupakan” yang menjadi ruang pelarian semu repetitif, “Koboi Ibot” yang menunjukkan moniker bagi alter ego bebas tanpa arah, “Tebang” yang menampilkan amarah atas eksploitasi, “Validasi” yang secara terbuka mengkritik kepalsuan di sosial, serta “Aku Malu” yang menyoroti rindu dan penyesalan.
“Kalau ditanya seberapa personal, mungkin di angka sembilan dari sepuluh, karena banyak keresahan, pengalaman, dan kejadian yang pernah gue alamin sebelumnya,” ujarnya. “Tapi karya adalah karya, kritik adalah kritik, bagi yang merasa jadikan pelajaran aja, gue juga bukan manusia sempurna, gue cuma mau menumpahkan seluruh emosi dan pikiran gue di album ini.”
Album “Nothing Personal Disorder” melibatkan sejumlah kolaborator yang turut memperkaya keseluruhan arah artistiknya. Radya Henggar berperan sebagai co-producer, sementara kontribusi pada musik juga diisi oleh Jason Ranti dan Oyot. Dari sisi visual, identitas album ini dibentuk oleh Allan Soebakir, Dzikrie Arethusa, Selvira Nabilla, Allit, dan Rikza, yang bersama-sama menerjemahkan pendekatan artistik album ini ke dalam bentuk visual yang selaras.
Selain perilisan musik, album “Nothing Personal Disorder” juga akan diiringi dengan sejumlah rangkaian aktivasi yang memperluas pengalaman pendengar ke ranah yang lebih performatif. Beberapa trek akan diterjemahkan ke dalam video musik, sementara kehadiran album ini juga akan ditandai melalui showcase di Bandung dan Jakarta. Rangkaian ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan “Nothing Personal Disorder” tidak hanya sebagai karya dengar, tetapi juga sebagai pengalaman yang dapat diakses melalui berbagai bentuk.
