“A24” memosisikan absurditas sebagai tonggak utama estetikanya. Lirik-liriknya memanggil citra visual yang terasa sinematik sekaligus ganjil: kota tenggelam, cahaya yang sirna, dunia yang perlahan mati. Namun alih-alih menghadirkan rasa takut, HMM memilih sudut pandang yang lebih manusiawi, seperti tertawa di tengah reruntuhan, seolah semua kehancuran ini memang bagian dari skenario yang sudah ditulis sejak awal.
Secara musikal, “A24” bergerak di spektrum pop rock awal 2000-an: gitar yang melodis, progresi chord yang hangat, dan struktur lagu repetitif dan mudah dicerna tanpa kehilangan kedalaman emosi. Namun HMM menambahkan sentuhan atmosferik yang memberi rasa sinematik, membuat lagu ini terasa seperti soundtrack film coming-of-age yang diputar di ruang hampa. Fun, playful, tapi tetap emosional.
Kontras menjadi kekuatan utama “A24”. Saat liriknya memotret kota tenggelam dan dunia yang runtuh, musiknya justru bergerak dengan energi yang optimistis. Repetisi di bagian pre-chorus dan chorus menghadirkan efek euforia sederhana, sebuah pengingat bahwa bahkan di tengah kekacauan, selalu ada ruang untuk bernyanyi bersama. Seolah-olah, dalam imajinasi HMM, alien pun bisa menari riang di permukaan bulan.
Di balik scene yang digambarkan mulai hancur, “A24” sejatinya adalah lagu tentang keabadian. Tentang cinta yang tetap diputar ulang, bahkan ketika segalanya runtuh. Baris seperti “Dunia mati, kau abadi” dan “Dunia mati, kita abadi” menegaskan pesan utama lagu ini: di tengah kehancuran global maupun personal, selalu ada sesuatu yang memilih bertahan.
Dari titik inilah “A24” berjalan seperti sebuah film. Seperti ideologi sang rumah produksi yang menolak formula Hollywood, lagu ini pun dijadikan harapan buat perjalanan musikal HMM di industri musik Indonesia saat ini. Meski slowburn, dan jalannya tidak selalu nyaman, HMM bakal tetap berjalan menuju karya yang lebih besar yaitu mini album/EP perdana mereka tahun ini.
.jpg)
0 Komentar