Unit
skramz asal Sragen,
D.O.S.A, kembali menghadirkan karya terbaru melalui single berjudul “RUH”, sebuah komposisi yang memadukan intensitas musik skramz dengan refleksi spiritual mengenai asal-usul serta perjalanan batin manusia. Band yang terbentuk pada 2014 ini kini beranggotakan
Rendra Prihananto (vokal), Aditya Tri Wibowo (gitar), Rizal Bahy Ayusman (gitar), Yonanda Olga Aji Prasetya (bass), Alfaomega Bani Sabathino (synthesizer), serta Rayhan Zidane (drum). Sejak awal, D.O.S.A dikenal mengusung pendekatan
post-rock skramz dengan tema reflektif yang menyinggung sejarah dan kegelisahan manusia.
“Di single ini ada pembuka ayat Alastu bi Rabbikum yang kami jadikan pengingat bahwa manusia berasal dari ruh yang Tuhan titipkan. Lewat lanskap post-rock skramz, kami mengajak pendengar merenungi kembali siapa diri kita, dari mana kita datang, dan kepada siapa kita akan kembali. Dalam hal ini, D.O.S.A ingin mengajak orang berhenti sejenak dari keramaian dunia, berdamai dengan dirinya sendiri, dan menyadari bahwa manusia berasal dari tanah yang hanya bisa tetap lembut jika mendapat rahmat Tuhan,” ungkap Rendra.
Secara musikal dan tematik, “RUH” dibangun di atas fondasi spiritual dengan pembukaan penggalan ayat “Alastu bi Rabbikum” dari Surah Al-A’raf ayat 172 yang merujuk pada kesaksian ruh manusia kepada Tuhan sebelum kelahiran. Ayat tersebut menjadi titik awal narasi mengenai janji primordial manusia kepada Sang Pencipta serta asal-usul ruh yang berasal dari-Nya. Komposisi lagu bergerak dari atmosfer hening menuju luapan scream emosional yang menggambarkan perjalanan batin manusia, dari kontemplasi dan kegelisahan menuju doa. Tema yang diangkat menyinggung pertanyaan eksistensial mengenai asal-usul manusia, dari tanah menuju cahaya.
“‘Ruh’ adalah tamparan bagi manusia yang sering melupakan Tuhan, karena pada akhirnya kita semua akan kembali kepada-Nya hanya sebagai ruh, tanpa harta dan tanpa busana, serta hanya membawa iman, cinta, dan ketulusan. Melalui ‘Ruh’, kami ingin mengatakan bahwa bahkan manusia yang penuh dosa tetap memiliki jalan untuk kembali kepada Tuhan, yaitu dengan iman, harapan, dan kejujuran. Lagu ini kami bayangkan sebagai musik yang tidak hanya berdialog dengan manusia, tetapi juga dengan-Nya,” jelas Rendra.
Gagasan tersebut juga mengangkat konflik antara ruh dan raga dalam pencarian hidayah serta kedamaian spiritual. Tema ini beririsan dengan falsafah Jawa sangkan paraning dumadi, yang menegaskan bahwa manusia pada akhirnya akan kembali kepada Tuhan hanya sebagai ruh dengan membawa iman, cinta, dan ketulusan. Dalam narasinya, D.O.S.A juga menghadirkan bayang-bayang sejarah kelam seperti tragedi 1965 sebagai refleksi bahwa keadilan sejati pada akhirnya kembali kepada Tuhan.
“Seperti tema lagu-lagu kami sebelumnya, peristiwa 1965 secara tidak langsung mempengaruhi atmosfer dan semangat di balik penciptaan single ‘Ruh’. Namun kami mencoba mengubah sudut pandang tragedi itu, bukan hanya tentang mereka yang mati atau hilang, tetapi juga tentang anak cucu para korban yang tetap harus menjalani hidup dengan selalu melibatkan Tuhan. Kami percaya setiap luka dan ketidakadilan pada akhirnya akan menemukan balasannya, mungkin bukan sekarang di dunia, tetapi akan terbalas lunas di akhirat,” tambah Rendra.
Proses produksi “RUH” berlangsung sekitar dua bulan, dimulai dari penulisan gitar, sesi latihan, hingga proses rekaman yang bertepatan dengan momentum bulan Ramadhan sehingga turut membentuk suasana kontemplatif lagu ini. Selama pengerjaan, band menghadapi sejumlah kendala, terutama pada struktur ritme yang cukup kompleks serta kesulitan menyatukan jadwal para personil.
“Kami sempat mengalami kendala pada ritme lagu, karena ada pergantian part dari ketukan 4/4 menuju pola yang lebih tidak lazim seperti 4/6. Selain itu, waktu untuk bertemu personel juga menjadi tantangan karena masing-masing sedang sibuk dengan urusan pribadi. Namun setiap pertemuan singkat tetap kami nikmati sebagai proses melahirkan karya untuk para pendengar yang kami sebut sebagai jamaah Al-Dosaiyah,” kata Rendra.
Dari pertemuan-pertemuan singkat tersebut, energi kreatif D.O.S.A tetap terjaga hingga melahirkan karya yang mereka persembahkan bagi para pendengar setianya. Setelah perilisan “RUH”, band ini berencana mengadakan berbagai kegiatan lanjutan seperti sharing session, live session, serta kemungkinan produksi video klip. Mereka juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai ruang kreatif, termasuk kedai kopi dan komunitas lain, untuk memperluas resonansi pesan lagu tersebut.
“Mungkin setelah ini kami akan mengadakan sharing session rilis single ‘Ruh’, live session, dan kemungkinan video klip. Kami juga ingin bekerja sama dengan coffee shop serta berkolaborasi dengan berbagai pihak lainnya,” pungkas Rendra.
Single “RUH” dari D.O.S.A sudah dapat didengarkan sejak 14 Maret 2026 di berbagai digital streaming platform. Pendengar juga dapat mendukung perilisan ini secara langsung melalui
Haum Records di
Bandcamp. Pendengar diajak menyimak “RUH” sebagai ruang kontemplasi tentang asal-usul manusia serta perjalanan batin menuju Tuhan.
D.O.S.A ARE:
Rendra Prihananto (vokal)
Aditya Tri Wibowo (gitar)
Rizal Bahy Ayusman (gitar)
Yonanda Olga Aji Prasetya (bass)
Alfaomega Bani Sabathino (synthesizer)
Contact:
Instagram : @dosaskramz
Twitter : @dosaskramz
Contact: 081215326306
Email: dosaskramz@gmail.com
0 Komentar