Advertisement

Responsive Advertisement

Mengungkap Sisi Rapuh Emosional Blind the Villain Yang Tertuang Dalam EP "Sentimental"


Selama ini dikenal dengan persona yang kuat dan intens, band alternative rock asal Jakarta yang beranggotakan Imam (Gitar 1), Febi (Bass), Adha (Gitar 2), Tirta (Vokal) & Fachry (Drum), Blind the Villain, kini memilih untuk menanggalkan sejenak citra eksplosifnya. Melalui EP terbaru yang bertajuk "Sentimental", mereka secara resmi memperkenalkan sisi kemanusiaan yang lebih dalam, jujur, dan penuh kerentanan.

EP "Sentimental" bukan sekadar kumpulan lagu baru, melainkan sebuah jurnal emosional yang menangkap momen-momen saat manusia berada di titik paling rapuh. Jika nama "Blind the Villain" sering diasosiasikan dengan sisi gelap, EP ini justru menjadi penyeimbang yang menunjukkan bahwa di balik setiap sosok "antagonis" atau tangguh, terdapat lapisan emosi yang lembut dan penuh luka.

“Kami merasa sudah waktunya untuk menunjukkan sisi lain dari Blind the Villain. ‘Sentimental’ bukan tentang menjadi lemah, tapi tentang keberanian untuk mengakui bahwa di balik luapan amarah, selalu ada rasa rindu dan luka yang belum sembuh,” ungkap Imam, Gitaris sekaligus leader band ini.

Terdiri dari 5 (lima) track, "Sentimental" merangkum perjalanan melalui rasa kehilangan, nostalgia, hingga penerimaan diri. Blind the Villain mencoba mengeksplorasi aransemen yang lebih atmosferik tanpa kehilangan jati diri musik mereka. Penggunaan distorsi gitar yang lebih melankolis & alunan nada minimalis dari synthesizer memberikan ruang bagi lirik-liriknya untuk berbicara langsung kepada pendengar.

"Bagi kami, 'Sentimental' adalah cara kami berdamai dengan kenyataan bahwa merasa sedih atau hancur itu manusiawi," ujar Tirta, Vokalis. "Kami ingin pendengar tahu bahwa di balik kebisingan dunia, ada ruang aman untuk mengakui kerapuhan kita. EP ini adalah ruang aman tersebut."

Lagu utama yang berjudul "Terpatri" menjadi pintu masuk yang sempurna ke dalam dunia EP ini. Lagu tersebut menceritakan tentang fase berdamai dengan diri sendiri, setelah perpisahan yang tak diinginkan terjadi. Blind the Villain mencoba menggambarkan secara estetik dengan cara mereka, bagaimana kesedihan bisa menjadi sesuatu yang indah jika dirayakan dengan jujur.


Posting Komentar

0 Komentar