Bertahan Di Tengah Ketidakpastian: Hermione Rilis Album Penuh Perdana

Bertahan Di Tengah Ketidakpastian: Hermione Rilis Album Penuh Perdana


Pada manusia, ketidaksempurnaan dapat muncul dalam emosi, cara berpikir, keputusan, hingga relasi dengan individu lain. Hidup memang penuh rongga yang membuat tidak melulu berjalan sesuai dengan cetak birunya. Rongga-rongga itulah yang kemudian diisi Hermione melalui album penuh perdana mereka, “Trying My Best But It’s Not The Best That I Could Give”, sebuah rilisan yang lahir dari ketidakpastian hingga cara terakhir untuk tetap bertahan di tengah hidup yang tidak selalu berjalan dengan semestinya.

Hermione, unit midwest emo asal Tangerang, kini kembali merilis materi terbaru berupa album penuh yang bertajuk “Trying My Best But It’s Not The Best That I Could Give”. Berisikan 11 trek penuh dengan eksplorasi terbaru, Hermione menjadikan album terbarunya ini sebagai monumen penting atas fase-fase sulit pada hidup yang perlu dirayakan. Album “Trying My Best But It’s Not The Best That I Could Give” dari Hermione telah dirilis secara penuh di seluruh DSP pada 3 Juni.

Secara musikal, Hermione tetap mengutamakan akar midwest emo sebagai identitas mereka pada album ini. Permainan twinkle pada gitar dan alunan melodious yang emosional tetap menjadi porsi utama, namun penggunaan synth dan plugin dihadirkan dengan segar sebagai pendekatan yang lebih eksploratif. Sentuhan tersebut sekaligus menjadi bentuk perkembangan Hermione setelah sebelumnya mendapat perhatian luas di internet dan skena musik alternatif lokal dengan akar midwest emonya yang khas dan eksentrik.

“Untuk perbedaan dengan rilisan sebelumnya, kami coba lebih eksploratif di penggunaan plugin dan synth. Biar kayak semi White Chorus dan mengarah ke eleventwelfth juga sih. Karena memang reference kami juga mau coba kayak Skrillex yang sotoy banyak sound-sound aneh,” ujar Hermione.

Di luar pendekatan nada, Hermione menaruh fase-fase hidup yang penuh keraguan, keresahan, hingga upaya bertahan sebagai narasi utama pada album ini. Hal tersebut kemudian diterjemahkan melalui tiga trek utama, seperti “Remah-Remah Anggur” yang menggambarkan rasa lelah, putus asa, dan tertekan saat berada di titik terendah hidup, namun tetap menyimpan harapan. Sementara itu, “For more years ahead (i hope so)” berbicara tentang ketakutan akan kehilangan seseorang yang selama ini menjadi tempat pulang, dibalut dengan harapan sederhana agar hubungan tersebut mampu bertahan. Pada sisi lain, “Hey, how u doin?” menceritakan pertemuan kembali dengan seseorang dari masa lalu dan proses menerima fakta bahwa beberapa hubungan memang lebih baik dilepaskan. “(Melalui album ini) Kami benar-benar mau cerita dan meluapkan semuanya,” tegas Hermione.

Artwork album yang dikerjakan oleh Rizky Bagus merepresentasikan keresahan dan emosi personal para personel Hermione. Visual empat anak kucing menjadi simbol para personel, sementara berbagai elemen di dalamnya menggambarkan rasa minder, tekanan, sekaligus semangat untuk tetap bertahan di tengah kekacauan hidup.

Dalam proses pengerjaan album “Trying My Best But It’s Not The Best That I Could Give”, Hermione juga turut mengucapkan terima kasih kepada Tuhan YME, Akmal, Binar, Ricky, Maul, Awal, Faiz, Derry, Beryl, Hermiwan/Hermiwati, Jemi (Love Letter), Dencan, Awin, Aul, Dimas, Hulica, Teenage Sounds, Saos Media, Bintaro Bawah Tanah, Kios Ojo Keos, Bapul, Naber, Padang, Padlan, Ipat Sasa, Hiubruu, Agil, Adrie, Simon, Aduy, Rendy, Wijay, Riot CF, Ale, Ramos, dan Terapi Herbal (Tiara, Idang, Fadhil, Hendro, Hanif, Hadin, Tangguh, Irfansyah, Nayla) yang telah memberikan dukungan serta menjadi bagian dari perjalanan album ini.


Posting Komentar

Related Posts