di tengah derasnya musik pop dalam era post-modern sekarang ini, rilisan musik semakin bergerak cepat mengikuti trend lewat algoritma yang menjurus kasar ala social media, seperti halnya ‘story’ yang hanya berlalu lalang hanya 24 Jam, kini selera musikpun sama adanya.
Namun dibalik itu semua Yaqin justru memilih berjalan pelan melawan arus, sambil membawa satu penawaran pada pendengar, lewat tulisan dan karyanya yang lebih personal, sebut saja kenangan, kegagalan dalam berbagai hal, termasuk percintaan, hingga kebiasaan-kebiasaan kecil yang diam-diam membentuk manusia dewasa hari ini. Ia coba dirangkum dalam album penuh perdananya bertajuk “Kebiasaan”.
Yaqin Sebelumnya dikenal melalui proyek “Sorai Seroja” kini melangkah ke ruang musikal yang berbeda. Jika proyek terdahulu terasa seperti perjalanan sunyi di tengah alam terbuka, melalui album “Kebiasaan” ini Yaqin banyak menghadirkan karya yang hadir seperti perjalanan malam di kota metropolitan yang dipenuhi lampu-lampu jalan, percakapan yang tidak selesai, dan rasa kehilangan yang terus hidup dalam diam.
Album ini tidak sekadar menjadi kumpulan lagu, melainkan sebuah ruang pengakuan personal tentang cinta yang tak pernah benar-benar usai, tentang kesepian dalam perantauan, serta proses pendewasaan, yang sering kali datang melalui luka dan kebisingan kota, dibungkus dengan nuansa retro pop, jazz, hingga sentuhan city pop yang hangat, “Kebiasaan” mencoba menjadi pilihan alternatif bagi telinga yang sedang mencari teman perjalanan, atau sekadar tempat pulang dalam bentuk suara.
“Album ini, lahir dari segala tingkah laku yang ditulis dan disimpan rapi dalam buku catatan, hingga pada tahun 2025 buku itu kembali dibuka, melalui bait, kalimat dan gumaman yang tersimpan, album ini kemudian dibuat dan diwujudkan dengan tangan dingin tim produksi yang ada di baliknya, hingga tuntas di pertengahan tahun 2026”, Kenang Yaqin, dalam cerita dibalik Albumnya
Secara garis besar, “Kebiasaan” terasa seperti memoar musikal. Album ini merangkum fase hidup ketika Yaqin memutuskan merantau jauh dari rumah demi mengejar peruntungan di dunia musik. Di dalamnya ada cerita tentang rasa sepi di kota besar, upaya beradaptasi dengan lingkungan baru, hingga benturan nilai dan prinsip hidup yang sempat mengguncang cara pandangnya.
Namun yang membuat album ini terasa intim bukan hanya tema ‘rantau’ yang menyentuh, melainkan bagaimana Yaqin menuliskan kisah percintaan dengan pendekatan yang lebih tenang dan dewasa, tidak ada ratapan berlebihan atau dramatisasi patah hati, sebaliknya, Yaqin memilih menyampaikan semuanya melalui sudut pandang yang maskulin, jujur, dan apa adanya.
“Saya bukan orang yang lihai menulis buku atau puisi yang manis, semua yang terpendam disampaikan lewat gumaman dan lagu yang saya percayai suatu saat akan menjadi catatan hidupnya,” ungkapnya.
Sebagai fokus utama album, Yaqin memilih “Purnama” sebagai ujung tombak, lagu bertema kasih tak sampai ini terinspirasi dari nuansa emosional lagu “Bunga Terakhir” karya Bebi Romeo yang berkembang menjadi kisah yang menyentuh banyak pendengar, melalui lagu ini, Yaqin ingin menyampaikan bahwa rasa sakit dan kehilangan pun dapat diungkapkan dengan cara yang santun dan indah.
“lagu ini merupakan permintaan seorang teman yang ingin kisah patah hatinya, yang hanya tersimpan dalam sepucuk surat tak pernah terkirim, diubah menjadi sebuah lagu. Ditulis bersama Vickry Kusuma, Judul “Purnama” sendiri merupakan nama samaran sosok yang menjadi inspirasi lagu tersebut, dan uniknya juga merujuk pada Bebek Purnama”. Ucap Yaqin
Di luar narasi personalnya, “Kebiasaan” juga menjadi bentuk kecintaan Yaqin terhadap estetika vintage dan musik pop klasik Indonesia. Album ini dipenuhi nuansa jazz 80-an yang elegan namun tetap groovy, dipadukan dengan retro pop dan city pop fusion yang menghadirkan bayangan kendaraan tua, lampu kota, serta gaya berpakaian formal yang maskulin.
Pengaruh nama-nama seperti Rafika Duri, January Christy, hingga Bebi Romeo terasa cukup kuat dalam pendekatan melodinya. Namun Yaqin tidak berhenti pada nostalgia semata. Ia juga membawa napas generasi baru melalui sentuhan ala Ardhito Pramono dan Bilal Indrajaya, menciptakan perpaduan yang terdengar akrab namun tetap segar.
Dalam produksinya yaqin dibantu oleh tiga orang penting dibalik layar, ada Bayu Aji sebagai Road Manager, Decky Anugrah sebagai Producer, dan Daniel Silalahi sebagai gitaris, ketiga orang ini lah orang-orang penting dibalik lagu dan dapur produksi Yaqin.
“Terima kasih harus terucap tentunya kepada Bayu sebagai Roadman, Decky yang menjadi “chef” dalam meramu, mengaransemen, dan bisa dibilang jantung pertahanan dan ketahanan panggung yang menerjemahkan nada dan gumaman pribadi selama ini, dan juga sentuhan-sentuhan magis Daniel Silalahi yang sebagai gitaris”. Tutur Yaqin
Melalui “Kebiasaan”, Yaqin tidak sedang mencoba menjadi paling modern atau paling eksperimental. Ia hanya ingin menghadirkan musik yang bisa menemani orang-orang yang sedang gundah, kesepian, ataupun lelah menghadapi hidup kota yang terus bergerak cepat.
“Album ini adalah alternatif bagi mereka yang sedang gundah. Saya ingin “Kebiasaan” menjadi teman pendamping di perjalanan, menjadi jejak yang bisa dikenang, dan membuktikan bahwa rasa sakit pun bisa disuarakan dengan nada santun nan indah.” Tutup Yaqin.
Selamat menikmati berbagai “Kebiasaan”, buah karya dari Yaqin, yang disadari fisiknya dalam perjalanan malam dalam kota dan lampu-lampu jalan, berbagai percakapan yang tidak selesai, dan rasa kehilangan yang terus hidup diam-diam.
_11zon.jpg)