Album perdana FILM. seakan membawa kita kembali ke suara dan visual yang familiar pada pertengahan tahun 2000-an. FILM. mengusung identitas pop-rock alternatif yang menjadi ciri khas mereka, dipadukan dengan nuansa musik pop Indonesia era 2000-an yang hangat dan penuh nostalgia. Pendekatan tersebut menjadi medium yang tepat bagi mereka untuk menyampaikan cerita-cerita personal dalam “Manuskrip” secara natural.
Melalui “Manuskrip”, FILM. mengajak pendengar untuk menelusuri lembaran kehidupan, melalui dua belas lagu termasuk intro, layaknya membaca sebuah naskah. Setiap lagu menjadi lembar cerita yang saling terhubung, merangkai suatu perjalanan yang dekat dengan pengalaman pendengar.
“Manuskrip” adalah sebuah album yang bercerita tentang dinamika kehidupan. Di dalamnya terdapat tema kehampaan dan harapan, penyesalan dan perayaan, serta cerita tentang awal dan akhir yang membentuk perjalanan manusia. Album ini berangkat dari konsepsi tentang takdir dan keniscayaan. Namun, nama “Manuskrip” dipilih untuk mewakili tema besar album yang tetap selaras dengan identitas nama band FILM. sebagai sebuah band yang bercerita.
“Manuskrip” bukan sekedar naskah, melainkan metafora tentang alur kehidupan yang seolah telah dituliskan. Meski demikian, manusia tetap memiliki peran aktif dalam menyusun dan memberi makna pada kisahnya sendiri. “Gagasan inilah yang menjadi benang merah album Manuskrip, sebuah pertemuan antara takdir dan kehendak, antara apa yang telah tertulis dan apa yang masih terus dituliskan hingga lembaran akhir.”, ujar Wawan, panggilan akrab sang bassist.
Sebagai band yang masih relatif baru, proses penggarapan album perdana ini menjadi suatu perjalanan musikal bagi mereka dalam merumuskan identitas FILM. “Dari proses pengerjaan Manuskrip gua jadi bisa mengerti dan nyambung ke cara pandang setiap member terhadap instrument & sound, komposisi & lirik, serta mood & karakter yang diincar seperti apa. Proses ini seperti perjalanan bagi kami karena jadinya belajar untuk kompromi di segala aspek produksi demi menghasilkan karya yang maksimal di setiap lagu yang kami kerjakan.” terang Dimas.
Lagu yang berjudul “Karena (Ku Tak Tahu)” hadir sebagai focus track dalam album “Manuskrip”. Kisah dari lagu ini menjadi titik balik penting dalam narasi album, sebuah lagu yang bercerita tentang perpisahan dengan pasangan yang dikira adalah cinta sejatinya.
Berbeda dari kebanyakan lagu perpisahan yang lahir dari konflik atau hilangnya rasa cinta, “Karena (Ku Tak Tahu)” bercerita tentang seseorang yang memilih untuk meninggalkan hubungan yang sebenarnya baik-baik saja, sebab menyadari bahwa dirinya sendiri belum memahami apa yang sebenarnya dicari dalam kehidupan. Lagu ini dibalut dengan aransemen slow-pop yang membawa perasaan pendengar larut dalam musiknya seolah-olah masuk ke adegan perpisahan dalam “Manuskrip”.
Secara umum, kedatangan FILM. dalam belantika musik tanah air seperti menghidupkan kembali musik Pop-Milenial. "Manuskrip" bagaikan nuansa nostalgia yang dulu mungkin kerap terdengar di radio, Inbox, Dahsyat dan MTV. Namun, FILM. tetap mengemasnya dengan pendekatan yang segar dan modern.
Dengan “Manuskrip”, FILM. hadir melepaskan dahaga generasi millennial yang mungkin merindukan suara tersebut, seraya mengajak generasi baru untuk turut berpartisipasi dari awal perjalanan band ini. “Gue berharap lagu-lagu di Manuskrip bisa menjadi gateway buat kawula muda untuk menyukai lagu-lagu pop Indonesia dan terus melekat di ingatan mereka sampai tua nanti, sama seperti musik-musik era 2000-an yang masih membekas untuk kami.”, ujar Pandu.
Kelahiran “Manuskrip” sebagai album perdana merupakan awal langkah FILM. dalam melantangkan eksistensinya di industri musik Indonesia. Mari nikmati dan bergabunglah dalam perjalanan musik FILM.!
