“Aku gak berani ngomong banyak soal karya ini,” kata Arie Wahyudi Prasetya, nama di balik proyek solo “Omenarie”. Kebetulan, dia juga merupakan vokalis dari unit audiovisual asal Malang, Monohero.
“Yang kutahu, ini adalah sebuah album dari seorang ‘pendosa’; seseorang yang ruwet, ribet, penuh dosa, dan sering lupa Tuhan, namun selalu diizinkan melahirkan keteduhan. Setidaknya, keteduhan bagi diriku sendiri,” tambahnya.
Omen sapaan akrabnya merancang alur album ini secara sinematik dengan membelah waktu untuk merespons transisi psikologis manusia. Mulai dari riuhnya tuntutan dunia luar, pekatnya suara-suara di kepala saat tengah malam, hingga bermuara pada kepasrahan absolut dalam menyambut fajar esok hari yang entah akan jadi apa nantinya.
Tak berjalan sendiri, ia melibatkan Gaharaiden Soetansyah, Santoso Febri Nugroho, Budianto Chandra dan sang istri Desi Dwi Lestari sebagai kolaborator utama album ini. Sebagian nomor di dalam album ditulis penuh oleh Omen, sementara beberapa trek lainnya dieksekusi secara kolektif. Ahmad Aji Pratomo, misalnya, turut membantu meramu lirik untuk lagu “Dan”.
Yang menarik, ada rekam jejak sejarah masa lalu dan jembatan literasi yang ikut dibawa ke dalam album ini:
“Lagu Penghidupan”: Merupakan adaptasi musikal Omen atas puisi mahakarya Chairil Anwar yang berjudul “Penghidupan”.
“Jangan Bermuram Hati”: Hadir sebagai single kedua, yang liriknya merupakan gubahan langsung dari puisi lawas kawannya, Randy Levin Virgiawan (KMPL).
“Hujan” & “Tanah”: Dua nomor warisan lama yang lahir dari band masa kuliah Omen, Harmoniora. Lirik “Hujan” digubah secara kolektif oleh Omen dan Ahmad Ribhi, sedangkan “Tanah” ditulis oleh Triwida Wulandari.
Proses rekamannya sendiri digarap lintas kota, membelah ruang antara Soeara Studio Jakarta and Brownsugar Production, Surabaya-Malang.
Beralih ke aspek visual, perupa asal Surakarta, @maritimagraria merancang artwork album ini. Merespons lagu-lagu Omen, Ia pun menampilkan perpaduan warna cokelat bumi organik di atas latar biru semen dingin yang melambangkan tiga elemen sakral kehidupan:
Akar: Representasi dari nilai-nilai dasar manusia, seperti empati yang mendalam dan kerendahan hati untuk tunduk ke bawah.
Tas Anyam: Simbol dari kecerdasan adaptif dan sinergi sosial; jalinan helai yang saling mengunci untuk bertahan hidup.
Genting Merah: Lambang manusia yang mulanya berasal dari tanah becek nan kotor, namun mengeras dan bertransformasi menjadi pelindung tertinggi yang siap memayungi sesama setelah ditempa di dalam tungku panas ekstrem bernama “kehidupan”.
“Aku mengumpamakan musik sebagai ruang aman (safe space). Bagiku, ia adalah ruang tamu rumah di malam hari. Tempat kita bebas mengakui bahwa kita rapuh dan lumpuh, namun juga percaya bahwa hari baik ‘kan selalu ada seiring fajar menjelang,” pungkas Omen.
