Soerya digawangi oleh Imong (vokal), Roni (gitar), dan Andi Boegil (drum). Nama terakhir dikenal luas sebagai drummer Merpati Band. Namun melalui Soerya, Andi memilih membuka lembaran baru dengan eksplorasi musikal yang lebih bebas dan personal.
“Musik di sini bukan sekadar hitungan angka atau formula industri. Semua dibangun dari karakter, referensi, dan keberanian untuk punya identitas sendiri. Itu yang bikin saya tertarik ada di proyek ini,” ujar Andi Boegil.
Mengusung warna alternatif retro, Soerya menghadirkan perpaduan sound vintage yang hangat, groove yang organik, serta sentuhan harmonisasi yang kaya. Identitas tersebut menjadi fondasi utama perjalanan musik mereka ke depan.
Single perdana “Mungkin Di Esok Lusa” mengangkat tema tentang harapan, penantian, dan berbagai kemungkinan yang muncul dalam perjalanan sebuah hubungan. Lirik yang reflektif dipadukan dengan atmosfer musikal yang intim, menciptakan pengalaman mendengarkan yang emosional sekaligus mudah dinikmati.
Bagi Soerya, musik bukan hanya sarana hiburan, melainkan medium untuk menyampaikan emosi secara jujur. Filosofi tersebut mereka rangkum dalam semangat yang mereka sebut “Vintage Volume”, sebuah pendekatan artistik yang menempatkan rasa, karakter, dan kejujuran ekspresi sebagai elemen utama dalam berkarya.
“Musik di Soerya dibangun bukan hanya untuk terdengar baik, tetapi juga memiliki identitas dan rasa. Kami ingin setiap lagu meninggalkan kesan emosional bagi pendengarnya,” tambah Andi.
Melalui “Mungkin Di Esok Lusa”, Soerya berharap dapat menjadi alternatif baru di tengah perkembangan musik independen Indonesia yang semakin beragam. Single ini sekaligus menjadi langkah awal mereka dalam memperkenalkan karakter musikal yang akan terus berkembang melalui karya-karya berikutnya.
