Senin, Agustus 24, 2026

Ketika Kepercayaan Menjadi Panggung : Kisah MUVENO dan Konser Tunggal Yang Didanai oleh CROWDFUNDING


Tahukah kamu, ada satu band indie asal Surabaya yang berani mewujudkan mimpi besar tanpa sponsor, tanpa label rekaman, hanya bermodalkan kepercayaan?


Namanya Muveno. Band rock alternatif ini lahir di Surabaya pada tahun 2008, tumbuh dari ruang latihan sederhana menuju panggung-panggung kecil kota, hingga akhirnya menulis satu babak yang tak akan mudah dilupakan dalam sejarah musik indie Surabaya.


Awal tahun 2015, Muveno melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan band indie manapun di kota ini : menggelar konser tunggal di gedung bioskop The Lounge XXI, Ciputra Mall Surabaya. Sebuah venue yang biasanya menjadi tempat orang menonton film, malam itu berubah menjadi rumah bagi musik, riuh tepuk tangan, dan air mata haru. Namun yang membuat momen ini begitu istimewa bukan sekadar panggungnya, melainkan bagaimana panggung itu bisa berdiri.


Seluruh biaya dan kebutuhan konser malam itu, mulai dari sewa gedung hingga produksi, tidak datang dari kantong sponsor besar atau label rekaman. Semuanya dibiayai murni melalui crowdfunding, sebuah sistem penggalangan dana bersama di mana teman, sahabat, fans, hingga keluarga turut “patungan” mewujudkan mimpi ini. Sederhananya, crowdfunding bekerja seperti ini : Muveno membuka ruang bagi siapa saja yang percaya pada mimpi mereka untuk ikut berkontribusi, sekecil apa pun jumlahnya. Setiap rupiah yang terkumpul bukan sekadar donasi, melainkan sebuah suara kepercayaan, sebuah cara orang-orang terdekat berkata,


“Kami percaya kalian bisa,” dan “Kami ingin jadi bagian dari perjalanan ini.” Tidak ada jaminan. Tidak ada kepastian bahwa dana akan terkumpul cukup. Yang ada hanyalah keberanian untuk meminta dan kerendahan hati untuk percaya bahwa orang-orang di sekitar mereka, para sahabat, fans setia, dan keluarga, akan menjawab panggilan itu.

Dan mereka menjawabnya.


Konser malam itu diusung oleh empat personel Muveno: Irsan Yanuardi (vokal), Anggun Supanji (drum), Denny Irawan (gitar), dan Ogmer Yustisia (bas). Bagi mereka, dukungan yang mengalir dari para penggemar bukan sekadar angka donasi, melainkan wujud kepercayaan yang harus dibalas dengan setulus hati. Irsan sempat menyampaikan rasa bangganya atas perhatian para pendukung, dan menegaskan bahwa sudah sepantasnya kontribusi tersebut dibalas dengan apresiasi.


Sebagai ucapan terima kasih, Muveno pun menyiapkan rangkaian suvenir khusus bagi setiap penyumbang, sesuai besar kontribusinya. Penyumbang dengan donasi mulai Rp 50.000 mendapat CD album Muveno lengkap dengan ucapan terima kasih di halaman Facebook resmi mereka. Sementara bagi yang berkontribusi Rp 2 juta atau lebih, Muveno menyiapkan paket spesial berupa mug, gelang, kaos, CD album, hingga video lesson gitar untuk lagu "Kebersamaanmu". Tak berhenti di situ, mereka bahkan membuat lagu khusus dalam versi akustik serta scrapbook personal sebagai kenang-kenangan.


Malam itu, meja suvenir yang tertata rapi di pintu masuk venue menjadi saksi bahwa setiap rupiah yang diberikan fans bukan transaksi biasa, melainkan bagian dari sebuah cerita yang dibangun bersama. Konser tersebut juga menjadi momentum bagi Muveno merilis album perdana mereka yang berisi delapan lagu bergenre rock alternatif, dengan single "Kubersamamu" sebagai pembuka, disusul Tomorrow Is Ours, Remember, Tak Tentu Arah, Yang Kau Inginkan, Masih Bernafas, Obsesi, dan Tiada Kata Percuma. Tapi malam itu bukan satu-satunya panggung yang pernah dibangun Muveno untuk orang lain.


Mungkin tidak banyak yang tahu, tapi jauh sebelum konser bersejarah itu, Vocalist MUVENO, Irsan sudah lebih dulu menanamkan semangat berbagi panggung yang sama kepada sesama musisi indie Surabaya. Sejak 2014 hingga 2017, ia membuka pintu studio pribadinya, Jozz Studio, untuk sebuah segmen YouTube bernama Live Session. Tanpa biaya, tanpa embel-embel kerja sama komersial, ia hanya ingin band-band indie punya tempat yang layak untuk direkam dan didengar.


Lebih dari 20 band lokal pernah merasakan panggung yang dibangun Irsan lewat Live Session ini, di antaranya Crucial Conflict, Taman Nada, Fraud, Dindapobia, STDC, Starfish, Humi Dumi, Pig Face Joe, The Flins Tone, Blingsatan, Hi Mom!, Egon Spengler, Baragula, Give Me Mona, Devadata, BVAS, Ampun Woman, MMIH, Hawk, Rasvan Aoki, Chcocolatino dan masih banyak lagi.


Filosofinya sederhana : kalau tidak ada yang memberi mereka panggung, maka mereka yang akan membangunnya sendiri, dan kalau panggung itu sudah ada, maka saatnya berbagi kepada siapa pun yang masih menunggu giliran untuk didengar. Semangat itu pula yang kemudian mengalir ke malam konser di The Lounge XXI, ketika giliran Muveno yang dipercaya, dan komunitas yang selama ini mereka rawat membalasnya dengan kepercayaan yang sama.


Malam konser itu bukan hanya soal musik yang dimainkan di atas panggung. Ia adalah bukti nyata bahwa sebuah band indie bisa berdiri tegak bukan karena seberapa besar riuh sorotan yang mengelilinginya, tapi karena ikatan yang tulus dengan orang-orang yang mendukungnya sejak awal. Hingga kini, Muveno tercatat sebagai band indie pertama, dan mungkin satu-satunya di Surabaya, yang berhasil menggelar konser tunggal dengan skala yang cukup besar dan dengan menggunakan konsep crowdfunding murni. Sebuah pencapaian yang tidak hanya berbicara tentang musik, tetapi juga tentang kepercayaan, komunitas, dan keberanian untuk bermimpi.


Kisah Muveno mengajarkan satu hal yang sederhana namun menyentuh : bahwa panggung terbesar sekalipun akan terasa hampa tanpa orang-orang yang berdiri di baliknya dengan hati yang tulus. Malam itu, setiap tepuk tangan, setiap donasi yang mengalir, setiap surat kecil dari fans, adalah pelukan panjang yang berkata, "Kami ada untuk kalian." Dan bagi Muveno, itulah kemewahan yang sesungguhnya, bukan yang tertera di angka, melainkan yang tertanam di hati setiap orang yang percaya pada mimpi mereka sejak awal.

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search