Perspektif hadir sebagai album yang berbeda dari karya-karya sebelumnya. Bukan sekadar menyampaikan cerita, album ini mengajak pendengar melawan cara berpikir yang tunggal—mencari argumentasi, mempertanyakan, dan melihat kembali sebuah persoalan dari berbagai sudut pandang. Dengan gaya tulis yang sederhana, lugas, dan mudah ditangkap, setiap lagu justru menyimpan ruang tafsir yang luas. Apa yang terdengar sederhana bisa melahirkan kesimpulan yang berbeda bagi setiap pendengarnya.
Perspektif seperti melebur dua perjalanan sebelumnya: album pertama Si Anjing Gila dari Selatan dan album ke dua Di Rundung. Di dalamnya bertemu cerita tentang cinta, keluarga, kritik sosial, serta belajar menerima dan legowo terhadap kehidupan.
Si Anjing Gila dari Selatan merupakan proyek musik solo milik Ega Gilang Calvindoro, musisi indie folk asal Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Aktif berkarya sejak 2019, ia telah tampil di berbagai panggung musik independen dengan membawakan lagu-lagu yang memadukan folk, ballad, dan rock, dibalut lirik-lirik naratif yang jujur, personal, sekaligus sarat refleksi sosial.
Nama Si Anjing Gila dari Selatan terinspirasi dari lagu “Willy” karya Iwan Fals sebagai bentuk penghormatan terhadap semangat kebebasan berekspresi yang diwariskan Iwan Fals dan W.S. Rendra. Secara musikal, Ega banyak dipengaruhi oleh Johnny Cash, Neil Young, Bob Dylan, The Rolling Stones, Sawung Jabo, serta Iwan Fals. Berbagai pengaruh tersebut membentuk karakter musiknya yang sederhana, bertutur, dan dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari.
Lahir dan besar di Dampit, Kabupaten Malang, Ega mulai aktif bermain musik sejak 2013. Perjalanan bermusiknya diawali bersama band punk hardcore Gombal Lap Lapan, tempat ia belajar menulis lirik, menyusun komposisi, hingga memahami semangat berkarya secara independen. Bersama band tersebut, ia merilis album This Time The Resistance pada April 2019.
Di tengah aktivitas bersama band, Ega menyadari bahwa banyak cerita dan keresahan yang sulit dituangkan dalam format musik hardcore. Dari situlah proyek solo Si Anjing Gila dari Selatan lahir pada akhir 2019 sebagai ruang yang lebih bebas untuk menulis lagu-lagu yang lebih personal, reflektif, dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Pandemi pada 2020 menjadi titik balik yang membuat proyek solo ini berkembang lebih serius. Ketika panggung musik berhenti, proses menulis lagu justru semakin intens. Berbekal kemampuan yang dipelajari secara otodidak, Ega mulai memahami proses rekaman, produksi, hingga distribusi karya, meski harus menghadapi keterbatasan fasilitas, akses, dan biaya sebagai musisi yang tumbuh di daerah.
Dalam proses tersebut, ia kembali bertemu dengan kawan lamanya, Kipli, yang kini dikenal melalui proyek solo Ilmuwan Pengangguran. Pertemuan itu menjadi salah satu dorongan penting yang memperkuat keyakinannya untuk menyelesaikan karya-karya yang selama ini hanya tersimpan dalam catatan.
Pada 2021, Si Anjing Gila dari Selatan merilis single pertamanya sebagai langkah awal memperkenalkan proyek ini kepada publik. Dua tahun kemudian, album debut Si Anjing Gila dari Selatan resmi dirilis pada 2023. Disusul album kedua Di Rundung pada 2025, dan album ketiga Perspektif pada 2026 yang menandai fase baru dalam perjalanan artistiknya.
Melalui Perspektif, Ega memperluas tema yang selama ini menjadi identitasnya: keluarga, kampung halaman, kehidupan kelas pekerja, ketimpangan sosial, hingga budaya digital yang membentuk cara manusia memandang satu sama lain. Baginya, musik bukan sekadar hiburan, melainkan arsip tentang zaman dan ruang untuk menyuarakan kisah-kisah yang sering luput dari perhatian.
Hingga hari ini, Si Anjing Gila dari Selatan terus berjalan secara independen dari Dampit, membuktikan bahwa karya yang lahir dari kota kecil dapat menjangkau pendengar di mana pun. Dengan tiga album penuh yang telah dirilis, proyek ini terus berkembang sebagai ruang untuk merawat ingatan, menyampaikan kegelisahan, dan mengajak pendengar melihat kehidupan dari lebih dari satu sudut pandang.
Posting Komentar