Diawali dengan sneak peek pada bulan Agustus lalu melalui single terbarunya berjudul “Sullen Chair”, kali ini Conflated kembali hadir membawakan keutuhan karya kepada pendengarnya. “Taman Akhir Hidup” menjadi cerita yang siap didengar bagi setiap orang yang mencari jawaban tentang kebebasan, jawaban atas semua pertanyaan yang ada di dalam benaknya. Berisikan 5 lagu yang terdiri dari “Veteran St.”, “Sullen Chair” dan 3 lagu baru dengan judul “Statis”, “Nest”, dan “Taman Akhir Hidup”. EP ini menarasikan urutan fase dimana seseorang mulai mempertanyakan beribu hal, hingga menemukan arti kebebasannya itu sendiri.
“Statis” hadir di urutan pertama sebagai pintu masuk menuju perjalanan mencari kebebasan. Menceritakan bagaimana seseorang mengalami rasa jenuh akan suatu hal yang terus berulang setiap harinya, sesuai dengan penggalan lirik pertamanya, “Pagi terbangun lagi, hari yang terus berganti”. Rangkaian melodi yang berulang, serta tempo up-beat pada lagu ini juga menggambarkan rutinitas yang padat nan monoton setiap harinya, hingga kehilangan makna sebenarnya, “Nanti ku cari lagi apa arti dari semua ini”. Nuansa elektronik yang disuguhkan melalui keyboard menggambarkan energi masa muda yang terus meronta-ronta untuk keluar mengejar idealisme. Namun, sering kali kita bersembunyi di balik ‘situasi aman’, membuat kita sering kali takut untuk melangkah keluar, “Bergantung pada gaji ‘tuk menghidupi sisa nafas ini,” menggambarkan situasi di umur 20-an yang sangat bergantung pada penghasilan demi bisa bertahan hidup.
Momen kontemplatif saat kita duduk termenung di zona nyaman kita, tetapi dilanda kegelisahan untuk melangkah dinarasikan melalui lagu “Sullen Chair”. Dibuka dengan dentuman drum sebagai pintu, keyboard yang mendayu, bass yang mengalun santai, serta petikan gitar yang berulang membuat mata kita terbuka setelah sekian lama duduk termenung. “This city full of empty frame, pictures are messing on my face,” perasaan jenuh dan sudah cukup dengan kota yang kita tempati, membuat kita ingin segera pergi meninggalkan tempat itu. Keinginan untuk pergi terus menggebu-gebu, suara di kepala menyuruh untuk mengejar silhouette fajar dari tempat lain: “Lately I’ve told myself to go, chase the dawn and cruise that lonely ship”.
“Nest” menjadi lagu di urutan ketiga dari EP ini, menggambarkan seseorang yang terkungkung di dalam suatu situasi. Diibaratkan sebuah sebuah burung kecil yang tak tau cara terbang dan terjebak di dalam sangkarnya, “It's sucks, like traffic makes car stuck, just stuck and feeling bored”. Penggambaran seekor burung diambil berdasarkan keinginan personil Conflated untuk menjadi seekor burung yang bebas berkelana di udara, merasakan hangatnya mentari dan hembusan angin, tak peduli dengan hiruk pikuk dunia, “It’s its silly, who even cares? wanna be a bird soaring through the air. Feel the sunlight and the gentle breeze, unbothered by the world's unease”. Strumming gitar up-beat disertai build up drum, keyboard, lead gitar, dan bass di awal lagu menjadi gambaran seekor burung yang melompat-lompat berusaha keluar dari sangkarnya. Pada lagu ini, seekor burung tersebut akhirnya tahu bagaimana cara keluar dan terbang mencari kebebasan di luar sana. Kebebasan ini ditandai dengan nuansa disko pada bagian refrain kedua dengan lirik “But no more here, feel like I’m sinking to my past. I’m sure I'll free as swift as bird out of the nest”.
Di urutan keempat diisi oleh “Veteran St.”, single pertama Conflated yang turut menghiasi EP ini. Lagu “Veteran St.” sendiri bercerita tentang melawan keputusasaan dalam mengejar mimpi. Semakin tua, manusia semakin dipukul oleh realita bahwa mereka sudah tidak punya waktu lagi untuk memikirkan mimpi-mimpi masa mudanya, apalagi mewujudkannya, “Jika setengah abad kau nanti, idealmu tak ‘kan bertaut lagi”. Terinspirasi dari kutipan Pandji Pragiwaksono, lagu ini memberi pesan untuk “Jangan Bunuh Mimpimu”, karena sekeras apapun kamu pukul, mimpi tersebut hanya akan mati suri, dan bangkit pada saat kamu tua dalam bentuk penyesalan. Lagu ini diawali dengan intro gitar yang catchy, untuk memberikan 30 detik sambutan ternyaman bagi para pendengar baru Conflated. Dikemas dengan ringan, lagu ini cocok didengarkan untuk orang-orang yang terbiasa untuk melakukan aktivitasnya sambil mendengarkan musik, baik di pagi, siang, sore, atau malam hari.
Terakhir adalah “Taman Akhir Hidup”, sebuah lagu yang menutup EP dengan monolog singkat di dalamnya. Lagu yang menceritakan tentang titik akhir akan perjalanan yang ditempuh. Penggalan lirik “Ku memburu yang lalu, membunuh diriku”, menjadi gambaran momen mengikhlaskan semua peristiwa yang penuh luka, “Ku tertusuk durimu, menjerat nafsuku”. hingga akhirnya muncul rasa damai dan menemukan arti kebebasan yang sesungguhnya. EP ini hadir sebagai bentuk karya dari sebuah perasaan dan pengalaman yang pernah kami alami.
Kami percaya kami tidak sendiri. Emosi yang disampaikan melalui EP ini diambil dari kekecewaan, kekhawatiran, serta mimpi orang-orang di sekitar kami. Dirangkum dan termanifestasikan melalui barisan lirik dan melodi. EP ini menjadi harapan bagi setiap harapan dan perasaan yang terpendam, untuk berani melangkah dan terbang, hingga nanti tiba di Taman Akhir Hidup.
Conflated adalah band asal Malang, Indonesia. Melalui karya-karyanya, Conflated ingin mengajak siapa saja untuk terus melangkah, menemukan makna dari setiap keberhasilan maupun kegagalan, dan meromantisasi segala bentuk kehilangan, keterpaksaan, dan penolakan. Conflated hadir untuk menemanimu di hari kemarin, hari ini, dan di setiap hari baik maupun buruk yang akan datang.
Social Media:
Instagram: @cnflated
Tiktok: @cnflated
Email: conflateeed@gmail.com

0 Komentar